jump to navigation

Akankah Banyak Fiksi Islam Kan Diangkat Menjadi Film Maret 24, 2008

Posted by sastrabatubara in esay sastra.
add a comment

Dengan suksesnya Ayat-Ayat Cinta,akankah banyak pihak yang melirik fiksi islam lain tuk diangkat menjadi film…
jika ya…ane berharap ini bukan aji mumpung aja…harus ada peningkatan kualitas…
supaya tidak cepat terjadi kebosanan

Buku Itu…Cerpen Itu… Maret 14, 2008

Posted by sastrabatubara in esay sastra.
2 comments

 

Ini dua kisah ,yang menjadi bagian dari sejarah hidupku .Torehan masa lalu yang memberi pengaruh sampai sekarang.Dua kisah bersamanya…

Buku itu… berjudul”Menulis Bikin Kaya”.Kubaca bukan karena HTRnya,tapi karna judulnya .Dan akupun ingin jadi penulis ,ingin jadi kaya ,kaya dalam makna luas ,bukan hanya kaya harta saja.Dan Akupun mendapat semangat baru ,semangat tuk menulis.Yang semangat itu itu tak tertampung lagi dalam diriku ,meluap-luap.Dan akupun memuntahkan luapan itu ke sahabatku.cerita buku itu pun berpindah kedia,buku itu pun dibaca.Dan dia pun ingin jadi penulis.

Sayang ,ini bukan bukuku ,aku hanya meminjamnya dari seorang guru.Yang saat pengembaliannya ku tanya tentang pengaruh buku itu…ternyata tulisannya sudah ada yang dimuat.

Sayang,karena sulitnya akses buku di kampungku ,ku tak bisa membelinya .Padahal buku itu bisa jadi salah satu penyemangat ,disaat semangat kepenulisa ku luntur.Ya Salah satu penyemagat.

Cerpen itu…Ditulis oleh HTR.Kubaca cerpen itu bukan karena judulnya.tapi karena HTRnya.Cerpen berjudul”Ketika Duka Tersenyum”itu kubaca dengan rasa penasaran.Seperti apa tulisan yang ditulis seorang HTR?Apa benar seperti kata orang?
Dan kubacalah cerpen itu ,saat berada di angkot.
Dan aku bingung ,badanku terasa ngilu saat membaca bagian yang menceritakan  kecelakaan.
Dan aku pun  berpikir yang tidak tidak ,bagaimana kalau angkot ini ….
Dan aku pun berdoa agar tidak terjadi yang tidak tidak…
Dan  aku pun terpekur bersyukur ats nikmat-NYA

Esoknya cerpen itu menarik perhatian seorang tukang bikin onar.,judul itu menariknya .Tukang bikin onar yang non muslim itu pun membaca cerpen itu.Aku menunggu reaksi dari seorang yang sangat mudah meluapkan amarahnya.Yang jika meluap maka kata kata”mutiara”pun mudah sekali keluar dari mulutnya.Akhirnya reaksi itu tertangkap oleh inderaku…Dia menagis…

Sepertinya sang penulis menulis dengan penuh perasaan .Dan perasaan itu bisa dialirkan ke pembacanya.
Setelah membaca cerpen itu,aku terus mencari cerpen HTR yang lain,tapi sampai saat ini tak juga bersua.