jump to navigation

MENUNGGU KEMATIAN Maret 14, 2008

Posted by sastrabatubara in cerpen.
4 comments

 

Sang Mentari, baru satu jam yang lalu muncul dari ufuk timur. Cahaya kekunignannya yang menyelinap di sela-sela pohon memberi rasa cerah di pagi ini. Kehangatan cahayanya memberi semangat untuk menjalani hidup yang begitu sulit. Biasanya setiap pagi aku sudah pergi bekerja mencari makan, ditemani kicauan burung­burung dan udara segar. Namun, pagi ini berbeda, aku tak bisa kemana-mana. Di dalam kurungan aku menunggu detik-detik kematianku.

Tapi janganlah kau sangka aku ini penjahat. Bukan. Aku ini bukanlah penjahat. Aku bukan perampok kelas kakap yang selalu membunuhi korbannya dengan sadis. Bukan juga aku seorang bandar besar narkoba, yang telah membunuh jiwa jiwa para remaja hingga mereka kehilangan gairah dan semangat untuk hidup.

***

Aku terlahir kembar, bukan kembar dua melainkan kembar lima. Kami terlahir di sebuah tempat berteduh yang sempit dan tanpa penerangan-lerletak di belakang rumah majikan ibuku. Ketika aku dan keempat saudaraku sudah kuat untuk berjalan ibu mengajak kami bertualang guna berjuang mencari makan. Kami berjalan beriringan mengikuti ibu yang tampak tegar berjuang sendiri mengurusi anank-anaknya.

Ayah, sosok yang sehrusnya mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya, entah kemana rimbanya. Bahkan aku sendiri tak tau bagaimana wajah dan cirinya. Kudengar kabar, ayah tewas saat bertarung dengan pejantan lain di arena pertarungan yang banyak dikunjungi manusia. Bahkan hanya dengan melihat ayah bertarung, manusia-manusia tersebut ada juga yang bertaruh, memilih siapa petarung yang menang.

Di hari perdana, kami hanya disuruh ibu menonton bagaimana cara mendapatkan makanan dan dimana saja makanan itu bisa didapat. Kami diajaknya kewarung­warung,rumah makan untuk mengais-ngais tempat sampahnya. Apabila ibu mendapat makanan, ia lantas memanggil kami, kami langsung memperebutkan makanan yang baru didapat ibu itu. Aku kurang gesit saat berebut makanan, sehingga aku jarang mendapat makanan pemberian ibu. Karena itu aku berupaya keras untuk mencari makananku sendiri. Ternyata sulit juga. Tapi akhirnya aku berhasil juga, aku mendapatkan makananku. Senang rasa hatiku. Tapi saat aku masih merayakan keberhasilanku, salah satu saudaraku melihatku dan berlari kearahku dan berupaya merebut makanan yang baru saja kugigit. Spontan aku berlari kearah ibu sambil memanggil-manggilnya Jelas makanan yang dimulutku berjatuhan dan langsung diperebutkan oleh keempat saudaraku.

Sebenarnya, setiap pagi majikan ibu yang juga majikan kami, selalu memberi makan. Tapi itu mana cukup bagi kami. Kami juga berusaha tidak mau bergantung padanya. Makanya, kami tetap bekerja keras untuk mencari makan, walaupun sang majikan baik kepada kami. Tapi majikanku itu selalu mengusir apabiala ibu, aku,atau saudara-saudaraku masuk kerumahnya yang terlihat besar dan nyaman itu. Bahkan aku pernah mendapat pukulan sapu ketika aku masuk kerumahnya. Apa karena tubuhku dekil, kukuku kotor, badanku bau atau mungkin dia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Aku jadi penasaran, aku jadi semakin sering menyelinap masuk kerumahnya. Akhirnya aku tau penyebabnya, saat kudengar omelan beliau. Ternyata karena kebiasaanku yang selalu buang hajat di sembarang tempat. Memang sih, ketika aku masuk kerumahnya kadang aku meninggalkan kenang-kenangan tersebut. Kebelet sih!

***

Ketika tubuhku sudah lumayan gede dan sudah kuat untuk mencari makan sendiri, ibu melepaskan tanggung jawbnya kepadaku. Waktu itu ibu terlihat sakit-sakitan, kena flu dia, selang beberapa hari ibu mati. Ya, Mati. Pemakamannya diurus oleh majikannya.

Barulah aku memulai kehidupan baru tanpa bantuan ibu. Selain mencari makan, aku juga mulai cari-cari pasangan. Banyak sudah yang kudekati. Ada yangtmau, ada jugayang sudah mempunyai pasangan. Bahkan aku pernah berebut pasangan dengan pejantan lain, tapi aku kalah dalam perebutan sengit itu, sehingga kurelakanlah dia. Akhirnya, aku berhasil dapat pasangan yang, yaitu saudara kembarku sendiri. Tentu yang sejenis dengan ibu, akukan bukan homo.

**~

Sampai akhirnya, ba’da subuh tadi. Saat aku baru keluar dari peraduanku, aku ditangkap oleh majikanku sendiri. Sempat aku meronta dan menjerit minta tolong. Namun tak ada yang menolong dan aku dimasukkan kedalam kurungan. Awalnya aku tak tau penyebab aku dijebloskan kedalam kurungan itu. Setelah mendengar percakapan majikanku dengan anaknya, misteri penyekapanku terkuak. Aku hendak dimakan!…. Tapi janganlah kau sangka majikanku itu kanibal. Jangan pula kau sangka majikanku itu petani Rusia yang hidup di zaman pemerintahan Stalin. Petani yang terpaksa menculik anak kecil untuk dimakan supaya lapar mereka yang amat sangat bisa hilang. Majikanku hanyalah manusia biasa yang ingin menjadikanku hidangan istimewa di hari istimewa.

Dari kisah hidupku tadi, mungkin kau sudah tau siapalah aku ini. Dan kenapa aku dikurung. Hidupku ini memang terlihat rendah, tapi ada manusia yang hidupnya lebih rendah dari aku. Pasti kau tau siapa manusia tersebut. Biarpun hidupku rendah tapi aku selalu bersyukur kepada Allah. Aku selalu berzikir pada Nya.

***

Majikanku dan anaknya berjalan kearahku. Kemudian membawaku ketempat yang sunyi di dekat rerumputan. Terlihat olehku kilatan pisau yang telah terasah yang berada di tangan majikanku menuju leherku. Aku pasrah. Pisau itu menyayat urat leherku bersamaan dengan terdengarnya asma Allah. Setelah itu aku dicampakkan kererumputan. Tubuhku menggelepar tak karuan, tapi anehnya aku tidaklah merasakan sakit yang sangat seperti yang kubayangkan. Di sela kejang-kejangku, sayup-sayup kudengar suara anak majikanku, Yah, ayamnya di goreng apa disemor?!”

(by: Adi Dharma)

Buku Itu…Cerpen Itu… Maret 14, 2008

Posted by sastrabatubara in esay sastra.
2 comments

 

Ini dua kisah ,yang menjadi bagian dari sejarah hidupku .Torehan masa lalu yang memberi pengaruh sampai sekarang.Dua kisah bersamanya…

Buku itu… berjudul”Menulis Bikin Kaya”.Kubaca bukan karena HTRnya,tapi karna judulnya .Dan akupun ingin jadi penulis ,ingin jadi kaya ,kaya dalam makna luas ,bukan hanya kaya harta saja.Dan Akupun mendapat semangat baru ,semangat tuk menulis.Yang semangat itu itu tak tertampung lagi dalam diriku ,meluap-luap.Dan akupun memuntahkan luapan itu ke sahabatku.cerita buku itu pun berpindah kedia,buku itu pun dibaca.Dan dia pun ingin jadi penulis.

Sayang ,ini bukan bukuku ,aku hanya meminjamnya dari seorang guru.Yang saat pengembaliannya ku tanya tentang pengaruh buku itu…ternyata tulisannya sudah ada yang dimuat.

Sayang,karena sulitnya akses buku di kampungku ,ku tak bisa membelinya .Padahal buku itu bisa jadi salah satu penyemangat ,disaat semangat kepenulisa ku luntur.Ya Salah satu penyemagat.

Cerpen itu…Ditulis oleh HTR.Kubaca cerpen itu bukan karena judulnya.tapi karena HTRnya.Cerpen berjudul”Ketika Duka Tersenyum”itu kubaca dengan rasa penasaran.Seperti apa tulisan yang ditulis seorang HTR?Apa benar seperti kata orang?
Dan kubacalah cerpen itu ,saat berada di angkot.
Dan aku bingung ,badanku terasa ngilu saat membaca bagian yang menceritakan  kecelakaan.
Dan aku pun  berpikir yang tidak tidak ,bagaimana kalau angkot ini ….
Dan aku pun berdoa agar tidak terjadi yang tidak tidak…
Dan  aku pun terpekur bersyukur ats nikmat-NYA

Esoknya cerpen itu menarik perhatian seorang tukang bikin onar.,judul itu menariknya .Tukang bikin onar yang non muslim itu pun membaca cerpen itu.Aku menunggu reaksi dari seorang yang sangat mudah meluapkan amarahnya.Yang jika meluap maka kata kata”mutiara”pun mudah sekali keluar dari mulutnya.Akhirnya reaksi itu tertangkap oleh inderaku…Dia menagis…

Sepertinya sang penulis menulis dengan penuh perasaan .Dan perasaan itu bisa dialirkan ke pembacanya.
Setelah membaca cerpen itu,aku terus mencari cerpen HTR yang lain,tapi sampai saat ini tak juga bersua.